Sabtu, 13 Juli 2013

CERPEN_Catatan Cerita Ramadhanku_IRFANDY

Catatan Cerita Ramadhanku
IRFANDY
Pada hari pertama puasa, aku dan kedua kawanku sedang berada di Perpustakaan Sabang, tempat yang ramah pengunjung, gudangnya ilmu dan memiliki akses jaringan internet untuk pelajar dan mahasiswa. Saat itu aku sedang membuat sebuah sosial media online berupa blog atau catatan pengalaman edisi Ramadhan. Selesai membuat blog, aku menyisipkan sebuah kata-kata mutiara yang bernilai dakwah dan memotivasi diri demi membangun rasa cinta terhadap bulan puasa Ramadhan yang dilalui.
Dalam beberapa hari ini aku sudah memposting atau menampilkan beberapa kata-kata mutiara itu. Pada hari pertama puasa salah satunya aku menuliskan “Pada dasarnya seorang anak itu “remaja atau dewasa” mengikuti pola perilaku orang tuanya tanpa di sadari, walaupun hanya sedikit.. contoh, di saat sang anak tak menjalani kewajibannya sebagai seorang muslim, berarti orang tuanya sewaktu seusianya demikian pula langkahnya. Lantas apa yang harus di lakukan! Setiap orang tua punya trik tersendiri untuk mendidik para anak-anaknya dan anak pun sadar akan belajar dari tanggung jawabnya..”
Azan berkumandang, setelah selesai menampilkan sebagian tulisan di blog dan berinternet, kami pun bergegas pergi meninggalkan Perpustakaan dan langsung ke Mesjid untuk melaksanakan ibadah shalat Dhuhur. Usai shalat, kami beristirahat di mesjid sejenak berbicara mimpi masa depan yang cerah, seperti halnya “aku ingin jadi guru, lalu naik pangkat, pindah tugas menjadi kepala Dinas Pendidikan, hehe..,” lalu temanku Alfarabi “nanti kalau udah sukses ajak-ajak aku ya..
 Di sisi lain temanku Arifin yang berfoto profil model Aceh di sebuah sosial media “aku rencana mau di masukin kerja di radio Aceh sama seseorang..” serentak kami  tertawa bersama, bukan maksud meremehkan tapi memang suka bercanda ria di saat teman curhat. Selesai curhat, kami bersama-sama bergegas pergi. Alfarabi dan Arifin pulang dengan pesan.. “kami istirahat dan rencana nanti sore mau latihan (beladiri)” sedangkan aku pergi ke Taman Digital “online lagi ni, kalau pulang cepat payah keluar rumah nanti..”
Akhirnya kami berpisah di jalan dengan mengendarai sepeda motor masing-masing. Sesampai di Taman Digital suasananya ramai, maklum Wifi gratis dan pelayanan tempatnya memuaskan. Beberapa menit ku duduk tiba-tiba hujan turun dan membasahkan kami semua yang sedang asyik-asyiknya online sehingga terpaksa sebagian pengguna internet pulang dan beberapa orang lagi berteduh di suatu tempat yang kering sedangkan aku pergi tanpa bersabar mengendarai sepeda motor dalam keadaan basah di guyur hujan.
Lama perjalanan, sehingga terfikirkan oleh ku untuk singgah ke tempat teman yang mana ia seorang pengusaha muda yang baru saja merintis usaha awalnya. Setelah sampai, rupanya ia sedang merenovasi ruangnya untuk tempat pemotretan. Aku jenuh melihat mereka membenahi ruangan dan menunggu redanya hujan, lalu ku putuskan untuk berpamitan kepadanya “bang, saya pergi dulu ya, mau ke TD ni atau ke pasar cari karet Jam tangan yang putus..”, “Ok lah, hati-hati ya..” balasnya.
Hari mulai sore, aku pergi lagi mengendarai sepeda motor untuk yang kedua kalinya tapi kali ini hujannya agak reda. Di jalan aku berfikir melamun, kemana aku harus pergi dan munculah pemikiran saat itu bahwa aku harus ke pasar untuk memperbaiki jam tangan terlebih dahulu. Sesampai di pasar, rupanya toko pada tutup semua sehingga aku memutuskan kembali ke Taman Digital.
Sesampai di tempat, aku membuka tasku yang berisi laptop lalu mengakses internet untuk beberapa jam dan merancang kembali pengaturan gambar di blog yang ku punya. Lamanya bermain hingga waktu pun semakin gelap dan sebentar lagi akan berbuka puasa. Aku pun pulang, berkumpul bersama keluarga untuk berbuka puasa di rumah. Selesai menunaikan ibadah puasa di rumah, aku pun melanjutkan kegiatanku untuk merancang sebuah kertas bergambar di Corel draw berupa tulisan untuk di tampilkan esok hari.
Waktu menandakan 19.50 WIB, menjelang Isya dan tarawih. Aku masih saja mengolah gambar dan aku tak ingin membiarkan hal ini semakin larut dalam keindahan semata. Aku tinggalkan sekarang, tutup laptop sementara, jalan dengan bismillah.
Sesampai di mesjid seperti biasanya, menunaikan ibadah wajib dan sunat di bulan puasa akan menambah keberkahan, hikmah dan pahala yang besar bagi yang menjalankannya dengan ikhlas apalagi jikalau kita mencatat segala kebaikan dan berbagi sesama muslim baik itu sedeqah, ilmu dan nasihat yang bermanfaat untuk umat. Begitulah seterusnya aku dan teman-teman mencoba membenah diri kearah yang lebih baik dan tak menutup kemungkinan godaan itu selalu ada menghampiri kami di setiap saat.

Semua itu pasti akan terbayang dalam ingatan sehingga menjadi sebuah tulisan yang bertuliskan lewat blog Ceritaramadhanku.blogsot.com tentang berbagi catatan kebaikan yang di harapkan semua orang agar sadar menuju fitrah dengan senyuman indah penuh kemuliaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar