Catatan Cerita Ramadhanku
IRFANDY
Pada hari pertama
puasa, aku dan kedua kawanku sedang berada di Perpustakaan Sabang, tempat yang
ramah pengunjung, gudangnya ilmu dan memiliki akses jaringan internet untuk
pelajar dan mahasiswa. Saat itu aku sedang membuat sebuah sosial media online
berupa blog atau catatan pengalaman edisi Ramadhan. Selesai membuat blog, aku
menyisipkan sebuah kata-kata mutiara yang bernilai dakwah dan memotivasi diri
demi membangun rasa cinta terhadap bulan puasa Ramadhan yang dilalui.
Dalam beberapa
hari ini aku sudah memposting atau menampilkan beberapa kata-kata mutiara itu.
Pada hari pertama puasa salah satunya aku menuliskan “Pada dasarnya seorang
anak itu “remaja atau dewasa” mengikuti pola perilaku orang tuanya tanpa di
sadari, walaupun hanya sedikit.. contoh, di saat sang anak tak menjalani
kewajibannya sebagai seorang muslim, berarti orang tuanya sewaktu seusianya
demikian pula langkahnya. Lantas apa yang harus di lakukan! Setiap orang tua
punya trik tersendiri untuk mendidik para anak-anaknya dan anak pun sadar akan belajar
dari tanggung jawabnya..”
Azan
berkumandang, setelah selesai menampilkan sebagian tulisan di blog dan
berinternet, kami pun bergegas pergi meninggalkan Perpustakaan dan langsung ke
Mesjid untuk melaksanakan ibadah shalat Dhuhur. Usai shalat, kami beristirahat
di mesjid sejenak berbicara mimpi masa depan yang cerah, seperti halnya “aku
ingin jadi guru, lalu naik pangkat, pindah tugas menjadi kepala Dinas
Pendidikan, hehe..,” lalu temanku Alfarabi “nanti kalau udah sukses ajak-ajak
aku ya..
Di
sisi lain temanku Arifin yang berfoto profil model Aceh di sebuah sosial media “aku
rencana mau di masukin kerja di radio Aceh sama seseorang..” serentak kami tertawa bersama, bukan maksud meremehkan tapi memang
suka bercanda ria di saat teman curhat. Selesai curhat, kami bersama-sama
bergegas pergi. Alfarabi dan Arifin pulang dengan pesan.. “kami istirahat
dan rencana nanti sore mau latihan (beladiri)” sedangkan aku pergi ke Taman
Digital “online lagi ni, kalau pulang cepat payah keluar rumah nanti..”
Akhirnya kami
berpisah di jalan dengan mengendarai sepeda motor masing-masing. Sesampai di
Taman Digital suasananya ramai, maklum Wifi gratis dan pelayanan tempatnya memuaskan.
Beberapa menit ku duduk tiba-tiba hujan turun dan membasahkan kami semua yang
sedang asyik-asyiknya online sehingga terpaksa sebagian pengguna internet
pulang dan beberapa orang lagi berteduh di suatu tempat yang kering sedangkan
aku pergi tanpa bersabar mengendarai sepeda motor dalam keadaan basah di guyur
hujan.
Lama
perjalanan, sehingga terfikirkan oleh ku untuk singgah ke tempat teman yang
mana ia seorang pengusaha muda yang baru saja merintis usaha awalnya. Setelah
sampai, rupanya ia sedang merenovasi ruangnya untuk tempat pemotretan. Aku
jenuh melihat mereka membenahi ruangan dan menunggu redanya hujan, lalu ku
putuskan untuk berpamitan kepadanya “bang, saya pergi dulu ya, mau ke TD ni
atau ke pasar cari karet Jam tangan yang putus..”, “Ok lah, hati-hati ya..” balasnya.
Hari mulai
sore, aku pergi lagi mengendarai sepeda motor untuk yang kedua kalinya tapi
kali ini hujannya agak reda. Di jalan aku berfikir melamun, kemana aku harus pergi
dan munculah pemikiran saat itu bahwa aku harus ke pasar untuk memperbaiki jam
tangan terlebih dahulu. Sesampai di pasar, rupanya toko pada tutup semua
sehingga aku memutuskan kembali ke Taman Digital.
Sesampai di
tempat, aku membuka tasku yang berisi laptop lalu mengakses internet untuk
beberapa jam dan merancang kembali pengaturan gambar di blog yang ku punya.
Lamanya bermain hingga waktu pun semakin gelap dan sebentar lagi akan berbuka
puasa. Aku pun pulang, berkumpul bersama keluarga untuk berbuka puasa di rumah.
Selesai menunaikan ibadah puasa di rumah, aku pun melanjutkan kegiatanku untuk
merancang sebuah kertas bergambar di Corel draw berupa tulisan untuk di
tampilkan esok hari.
Waktu
menandakan 19.50 WIB, menjelang Isya dan tarawih. Aku masih saja mengolah
gambar dan aku tak ingin membiarkan hal ini semakin larut dalam keindahan
semata. Aku tinggalkan sekarang, tutup laptop sementara, jalan dengan
bismillah.
Sesampai di
mesjid seperti biasanya, menunaikan ibadah wajib dan sunat di bulan puasa akan
menambah keberkahan, hikmah dan pahala yang besar bagi yang menjalankannya
dengan ikhlas apalagi jikalau kita mencatat segala kebaikan dan berbagi sesama
muslim baik itu sedeqah, ilmu dan nasihat yang bermanfaat untuk umat. Begitulah
seterusnya aku dan teman-teman mencoba membenah diri kearah yang lebih baik dan
tak menutup kemungkinan godaan itu selalu ada menghampiri kami di setiap saat.
Semua itu pasti
akan terbayang dalam ingatan sehingga menjadi sebuah tulisan yang bertuliskan
lewat blog Ceritaramadhanku.blogsot.com tentang berbagi catatan kebaikan
yang di harapkan semua orang agar sadar menuju fitrah dengan senyuman indah
penuh kemuliaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar